Mahabbah Rindu

Putri dan Romonya #5

“Berputarlah agak jauh, ada yang ingin ananda ceritakan.”

“Ya, berceritalah. Akan Romo putar jalur lebih jauh dari biasanya.”

“Terimakasih. Jadi, apakah Ibunda telah menceritakannya pada Romo? Perihal seorang pria yang berniat serius dengan ananda?”

“Ya. Telah ia ceritakan. Tapi, Romo ingin pula mendengarnya secara langsung.”

.

“Jadi, kapan engkau putuskan untuk rencana itu?”

“Secepatnya, Romo. Kalau bisa, di akhir 2017.”

“Tak bisa secepat itu. Kita lahir di bumi dengan ikatan adat yang harus pula kita junjung. Romo pun perlu mempersiapkan rencana itu dengan matang. Berapa koin pula yang harus Romo persiapkan untuk itu. Berpikirlah dahulu.”

“Ananda hanya ingin menyempurnakan setengah agama. Setahu ananda, tak perlu semahal itu dalam sebuah perayaan. Ananda ingin dalam ikatan agama dan hukum terlebih dahulu.”

“Itulah awal mulanya, Anakku. Tak secepat itu memutuskan. Romo harus pula mendiskusikannya pada para sesepuh. Pun jika itu tak berhalangan, Romo juga perlu mempersiapkan pundi-pundi koinnya.”

“Pundi terbesar adalah di perayaan, Romo. Bukankah tak sebesar itu jika untuk pengikatan secara agama dan hukum? Seserahan pun, dia telah menyanggupinya.”

“Sejauh itu percakapan kalian, Anakku. Namun, adat tetaplah harus dijunjung. Engkau pun tahu itu.”

“Baik, Romo. Jika begitu, tahun depan, apakah bisa? Setidaknya, ananda perlu memastikan untuknya. Agar dia juga bisa mempersiapkan pundi rejeki dan mentalnya.”

“InshaAllah memungkinkan. Romo lebih siap tahun depan jika dibandingkan tahun ini. Apakah dia menerima kekuranganmu?”

“Sejauh ini, alhamdulillah iya. Tapi, ananda tetap berpatuh pada ridho Romo dan Bunda untuk menilai agama serta akhlaknya.”

“Ya. Itu memang landasan terpenting. Jika memang dia mampu meningkatkan ibadahmu, menyempurnakan kekuranganmu, menyejukkan hatimu, dan bersama kalian bisa membangun baiti jannati, Romo ridho menyerahkanmu padanya.”

“Namun, Romo, jika ananda telah bersamanya, mungkin ananda tak lagi menjadi milik Romo sepenuhnya. Bukankah nantinya ridho-nya menjadi yang utama, kemudian barulah ridho Romo dan Bunda?”

“Bagaimana engkau mengetahui itu? Dan apa sumber yang engkau baca, wahai Anakku?”

“Ananda telah mendengar kajian Dr. Syafiq Reza Basalamah tentang bagaimana membangun baiti jannati. Disebutkan bahwa, ‘Cukuplah orang tua mengantarkan para anak perempuannya di gerbang pengikatan. Selanjutnya, serahkan ia seluruhnya pada pasangannya. Dan ridho utama yang harus anak perempuan mereka dengarkan adalah ridho dari pasangan mereka.’ Ananda hanya mengikuti kajian sekilas. Semoga tak ada salah tangkap, Romo.”

“Wahai, Anakku. Engkau telah mempersiapkan bekal ilmumu. Maka jika engkau benar-benar siap dan dia telah kami pilih secara agama serta akhlaknya, maka tak ada ragu lagi bagi kami melepasmu.”

Rumah, 9 Februari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s