Mahabbah Rindu

Kali Ini, Tolong Libatkan Tuhan #6

Semenjak keputusan kami untuk lebih mengenal satu sama lain, saya lebih menjaga diri untuk menghubungi pria lain selain dirinya. Sebenarnya memang tak banyak pria yang menghubungi saya, hanya saja, terkadang mereka meminta informasi mengenai teman wanita, yang kebetulan berteman pula dengan saya. Semacam saya sebagai perantara bagi mereka untuk mengenal calon mereka. Sebatas itu.

Pun, hingga kini, dari jatah 3 bulan yang kami sepakati untuk berkenalan, telah berjalan sekitar 1 minggu. Kami sedang saling menilai dan dinilai. Meyakini dan diyakini. Saya tak putus untuk meminta petunjuk Allah tentang langkah yang akan saya ambil. Semacam mulai kapok untuk tidak melibatkan Allah dalam setiap pengambilan keputusan.

Di hubungan terakhir, yang akhirnya kandas, saya baru melibatkan Allah setelah lama kami dalam hubungan ‘serius’ itu. Serius dalam pandangan kami sebagai dua insan yang dibutakan perasaan. Walaupun jika dibandingkan dengan perkenalan yang sekarang, pembicaraan saya dengan yang terdahulu malah terkesan sangat jauh dari kata serius.

Dan saya memang tak berniat menjelekkan pihak yang terdahulu. Karena saya yakin, inshaAllah yang terdahulu pun baik. Jika tidak, saya tak mungkin pula memilihnya untuk bersama. Walaupun kini tidak lagi bersama. Yang saya dengar dari kawan, sekarang ia telah memiliki tambatan yang lain dan saya turut senang mendengar hal tersebut. Dulu, sempat agak menohok ketika mendengar berita itu, karena rentang antara keputusan kami berpisah dengan keputusannya untuk memiliki yang lain, terbilang tidak lama. Sekarang, alhamdulillah, saya ikhlas Lillahi Ta’ Ala.

Saya yang sekarang, sejujurnya bersyukur mengenal pria yang sekarang ini. Ia memiliki beberapa pemikiran yang saya pegang teguh pula dalam memilih teman hidup. Terlebih dalam soal agama dan orang tua. Mengetikkan ini saja, saya merasa ingin menangis. Bukan sedih, tapi saya merasa bersyukur.

Mungkin, jika yang terdahulu saya, dengan ijin Allah membaca tulisan ini, akan menganggap tulisan saya ini basi. Saya selalu mengatakan bahwa saya bersyukur bertemu dirinya. Ya, memang, saya selalu mengatakan bahwa saya bersyukur bertemu dengan siapapun dalam hidup. Basi? Ah, tergantung penilaian manusia. Haha.

Tidak akan pernah dicukupkan hidup seseorang jika tak pernah ada rasa syukur di hatinya, bukan?

Hubungan saya yang sekarang, saya niatkan tidak kembali pada hubungan di ‘jalan yang kurang tepat’. Saya sudah lama tahu bahwa mengikat seseorang dalam hubungan yang ‘tidak semestinya’ adalah mendekati perzinaan. Zina mata, zina tangan, dan zina lain-lainnya. Saya tidak ingin hal itu terjadi lagi.

Bukan saya bermaksud sok agama. Bukan. Saya hanya lelah dengan kembali patah hati. Saya takut berbuat hal yang ‘astaghfirullah’, mengatasnamakan harapan ‘saya yakin engkau jodohku’. Saya takut itu terjadi lagi. Belum lagi, saya sebenarnya beberapa kali mendengar kajian agama tentang hal itu. Dan selalu terjadi pergolakan batin ketika perilaku tidak sesuai dengan ilmu yang saya dapat.

Terlalu cupu, kata teman. Tapi, entahlah, saya memang begini. Saya heran, di sisi lain saya sedih karena saya tak mampu mengimbangi pergaulan jaman sekarang. Di sisi lain, saya bersyukur bahwa saya masih memiliki perasaan takut ini. Ah.

Dalam setiap istikharah yang saya lakukan, saya selalu sisipkan doa untuk pria yang sekarang. Berharap kami memang benar-benar berada dalam jalan Allah. Berharap bahwa kedekatan kami memang untuk menyempurnakan setengah agamanya. Saling menjadi pembelajar. Namun, kami tetap dapat menikmati keduniawian dengan cara kami.

Saya yang sekarang, lebih berfikir tentang,

“Apakah saya telah siap menjadikannya imam bagi saya dan anak-anak saya?”

“Bagaimana didikan keluarganya terhadapnya dalam konteks agama?”

“Bagaimana ia menyikapi amarahnya?”

dan pikiran-pikiran lain, yang saya pun syukuri, keraguannya mendekati saya sejak dulu baru hilang sekarang. Jika saja, sejak dulu pria ini langsung menemui saya, saya tak yakin bahwa pembicaraan kami akan terarah. Apa yang akan kami lalui dulu, mungkin masih sebatas perkenalan tak bertujuan. Berbeda dengan sekarang.

Hingga ikrar sebagai penanda kami benar-benar terikat itu ia ucapkan, saya tak banyak berharap dengannya. Saya takut tetiba ia mundur. Saya hanya bisa terus melanjutkan usaha saya merayu Yang Maha Pembolak Balik Hati untuk terus menjaga hati kami. Saya hanya bisa terus meningkatkan pengetahuan tentang Baiti Jannati. Saya hanya terus mempersiapkan mental dan toleransi prinsip. Saya orang idealis dan saya tahu, ia pun begitu.

Saya hanya mampu merayu Allah. Hanya itu yang bisa saya lakukan sekarang.

Saya hanya meniatkan bahwa kami mengawali ini dengan tujuan di jalan Allah. Dan saya berharap setiap langkah yang kami ambil selalu diiringi ketakutan pada Allah. Yang saya yakini, setiap manusia ingin pula dekat dengan Allah. Saya yakin itu ada dalam hatinya, itu pula yang membuat saya, inshaAllah yakin dengannya. InshaAllah.

Bagaimana akhir perkenalan ini nantinya, saya serahkan semuanya pada keputusan Yang Maha Tahu Segala Hal. :”)

*And I am crying when I try to re-read it.

Rumah, 10 Februari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s