Mahabbah Rindu

Kuijinkan Engkau Berpoligami #7

“Mas. Adakah keluargamu yang berpoligami?”

“Ada apa? Jangan serius gitu, ih, pertanyaannya.”

“Jawab saja. Saya hanya ingin tahu.”

“Tidak ada. Alhamdulillah. Bagi keluarga dan saya pribadi, adil dalam sebuah poligami sulit sekali, Dik. Tidak semudah ‘katanya’. Namun, saya inshaAllah tidak ada niat untuk ke sana.”

“Jika saya memintanya?”

“Dengan alasan apa?”

“Bagi saya, lebih baik berpoligami daripada dicerai atau diselingkuhi. Entahlah. Saya hanya berpikir, itu berpoligami lebih baik daripada harus sendiri menjalani hari tua. Saya tidak pernah menolaknya, namun saya pun tidak menginginkan hal itu sepenuhnya. Saya hanya tidak melarang jika itu diinginkan oleh calon saya.”

“Maka, jagalah saya untuk tidak terjadi keinginan tersebut. Kita saling menjaga.”

.

Malam kemarin, saya tetiba berpikir tentang kemungkinan yang bisa kamu ambil, jika mau. Sejujurnya, sejak memiliki penyakit ini, saya seringkali mengatakan pada diri sendiri, “Jika ada pria saleh yang menjadi teman hidup, itu adalah sebuah bonus tak ternilai. Jika pun tidak, saya mungkin tak akan mencari.”

Saya bahkan pernah berpikir untuk tidak memiliki umur panjang. Kamu mungkin bukan yang pertama mengetahui tentang penyakit ini. Namun, untuk pertama kalinya, saya jujur mengutarakan kondisi saya terhadap pria yang (inshaAllah) serius. Dan saya harap, itu benar adanya. Kamu serius dalam ucapanmu.

Rumah, 11 Februari 2017

.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s