Mahabbah Rindu

Impian dan Kamu

“Allah tak pernah tidur, Nak. Jika sekali Dia berkata Kun Fayakun, maka akan jadilah apapun yang mungkin saja tak engkau pikir bisa terjadi.”

Saya masih teringat bagaimana peristiwa itu terjadi. Sesaat setelah keluar dari meja interview dan derai air mata tanpa permisi.

Terjawab sudah semua penantian. 16 Februari 2017. Derai air mata kali ini berbeda maksud. Air mata syukur. Penuh bahagia tanpa meragukan keagungan Allah.

Tanpa membanggakan diri sendiri, namun berbangga karena memiliki Allah. Dan untuk bertanda ke Mekkah pula, awal ini akan bertujuan. InshaAllah.

Semalam, 18 Februari 2017. Tanpa sengaja, saya mengucapkan apa yang benar-benar memalukan. Tidak hina bagi saya, namun mungkin hina bagi orang. Dan sialnya, orang itu adalah teman yang belakang meramaikan chat.

Entahlah. Semacam, “Astaga, kenapa dulu kepikiran, sih. Tapi ya gak salah juga.” Entah entah. Masih tersisa rasa malu itu. Bukan karena perbuatan ini diketahuinya, tapi lebih ke diri sendiri.

Telpon malam yang selalu menjadi pelepas bagaimana kami berdua untuk sementara. Menjadi penenang malam tadi. Terima kasih.

Bersabarlah. Saya pun akan belajar lebih sabar. Kamu pun begitu. Kita tak perlu memaksakan waktu untuk bersama. Dalam ikatan yang tidak Allah kehendaki.

Bersabarlah. Nafsu kita sedang dipermainkan setan. Perbanyaklah istighfar, saya mohon. Saya pun akan begitu.

Bersabarlah. Karena jarak kita akan semakin dekat. 🙂

Rumah, 19 Februari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s